Sinergi Trichoderma dan Mikoriza: Strategi Bioproteksi Cerdas Pertanian Berkelanjutan
Penggunaan agens hayati kini menjadi pilar utama dalam sistem proteksi tanaman modern untuk menekan penggunaan pestisida kimia yang berdampak negatif bagi ekosistem. Salah satu teknologi unggulan yang dikembangkan secara intensif oleh Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Industri dan Penyegar (BRMP TRI) adalah pemanfaatan jamur antagonis Trichoderma spp. Isolat-isolat potensial seperti T. virens, T. hamatum, dan T. amazonicum telah teruji efektif mengendalikan patogen tular tanah seperti Jamur Akar Putih (JAP) pada karet dan penyakit Busuk Buah Kakao (BBK). Mekanisme kerjanya sangat komprehensif, meliputi kompetisi ruang dan nutrisi, antibiosis melalui sekresi senyawa toksik, hingga mikoparasit yang mampu melilit dan mendegradasi dinding sel hifa patogen secara langsung.

Selain Trichoderma, Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) memegang peranan krusial sebagai "benteng pertahanan" perakaran tanaman. Dalam konteks proteksi tanaman, FMA bekerja dengan cara menginfeksi sistem perakaran dan membentuk jalinan hifa eksternal yang masif, sehingga menciptakan penghalang biologis terhadap infeksi patogen akar dan nematoda parasit seperti Meloidogyne incognita. Riset di BRMP TRI menunjukkan bahwa tanaman yang bermikoriza memiliki ketahanan yang lebih tinggi terhadap cekaman lingkungan dan penyakit karena FMA mampu memicu mekanisme Induced Systemic Resistance (ISR) serta meningkatkan asupan nutrisi esensial yang membuat tanaman lebih vigor.

Keunggulan teknologi ini semakin optimal melalui integrasi dalam sistem pertanian siklus-bio terpadu (Integrated Bio-cycles Farming System/IBFS) yang diusung oleh BRMP TRI. Sebagai contoh, produk inovasi "Biotri-V" yang berbahan aktif spora T. viride tidak hanya berfungsi sebagai biofungisida untuk penyakit BBK, tetapi juga berperan sebagai biofertilizer yang memacu pertumbuhan tanaman. Seluruh proses penelitian, mulai dari eksplorasi mikrob indigenous (asli lokal), perakitan formula dengan bahan pembawa seperti talk dan kompos, hingga pengujian efikasi di lapangan, dilakukan oleh tenaga ahli di BRMP TRI untuk menjamin ketersediaan benih dan bibit yang sehat, vigor, dan bebas dari Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Sumber:
Harni, R., Amaria, W., Syafaruddin, & Mahsunah, A. H. (2017). Potensi Metabolit Sekunder Trichoderma spp. untuk Mengendalikan Penyakit Vascular Streak Dieback (VSD) pada Bibit Kakao. Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar, 4(2), 57–66. https://doi.org/10.21082/jtidp.v4n2.2017.p57-66
Amaria, W., Harni, R., & Samsudin. (2015). Evaluasi Jamur Antagonis dalam Menghambat Pertumbuhan Rigidoporus microporus Penyebab Penyakit Jamur Akar Putih pada Tanaman Karet. Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar, 2(1), 51–60. https://doi.org/10.21082/jtidp.v2n1.2015.p51-60
Sasmita, K. D., Anas, I., Anwar, S., Yahya, S., & Djajakirana, G. (2020). Respons Benih Kakao Terhadap Amelioran, Mikrob Pelarut Fosfat, dan Pupuk Fosfat pada Tanah Masam. Jurnal Tanaman Industri dan Penyegar, 7(1), 39-52. https://doi.org/10.21082/jtidp.v7n1.2020.p39-52